Obat digunakan untuk mencegah, mengendalikan, atau mengobati penyakit. Selain memberikan manfaat, obat juga dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. World Health Organization menjelaskan bahwa produk obat dapat memiliki efek samping yang tidak diharapkan, sehingga keamanan obat perlu dipantau melalui kegiatan farmakovigilans.
Reaksi obat yang merugikan adalah respons yang berbahaya dan tidak dimaksudkan yang dapat terjadi ketika obat digunakan pada dosis yang lazim untuk pencegahan, diagnosis, atau pengobatan penyakit. Reaksi tersebut berbeda dengan kesalahan penggunaan, overdosis, maupun keracunan akibat penggunaan obat yang tidak sesuai.
Efek samping dapat bersifat ringan, misalnya mual, kantuk, pusing, sakit kepala, atau gangguan pencernaan. Namun, pada keadaan tertentu dapat muncul reaksi yang lebih berat seperti sesak napas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, ruam yang luas, penurunan kesadaran, kejang, atau perdarahan.
Risiko efek samping dapat dipengaruhi oleh jenis dan dosis obat, usia, berat badan, kehamilan, alergi, gangguan fungsi hati atau ginjal, penyakit penyerta, serta penggunaan beberapa obat dalam waktu yang bersamaan. Karena itu, respons setiap orang terhadap obat dapat berbeda.
Munculnya keluhan setelah menggunakan obat tidak selalu berarti obat harus langsung dihentikan. Untuk keluhan ringan, pengguna perlu membaca informasi pada kemasan dan berkonsultasi kepada apoteker atau dokter. Apabila muncul reaksi berat atau kondisi memburuk, penggunaan obat harus dihentikan dan pertolongan medis perlu segera dicari.